My LifeJuly 12, 2006 10:56 am
Test pertama di IBM (part 1, Keberangkatan ke Jakarta)
Test IQ ini merupakan pertama kalinya semenjak saya lulus dari ITB sebagai Sarjana Teknik. Saya pun baru apply beberapa perusahaan (kalau tidak salah, baru 4 perusahaan). Dan saya menerima informasi mengenai lowongan di IBM ini dari salah seorang teman yang dapat informasi dari alumni yang telah kerja di IBM. Karena dia sudah diterima di perusahaan lain, akhirnya dia menawarkan lowongan ini kepada teman2 elektro angkatan 2002 lainnya melalui mailing list.
Setelah saya apply, beberapa hari kemudian, saya dapat telepon dari salah seorang karyawan di IBM yang bernama Ibu Indri. Beliau meminta saya datang ke IBM pada hari Selasa, 11 Juli 2006 pukul 10 pagi untuk mengikuti Test IQ, yang merupakan syarat pertama untuk menjadi karyawan disana.
Akhirnya pada hari Senin, setelah memperoleh Transkip akademik, saya berangkat ke jakarta. Tadinya ingin menggunakan Travel X-Trans, ternyata untuk hari senin (10 Juli 2006) semua keberangkatan ke Pondok Indah sudah penuh sampai jam 6 sore. Dan rencananya waktu itu juga ingin mencoba travel yang lain. Tapi karena tidak tahu travel mana lagi yang harus dihubungi (lagi pula saya ngga tau travel mana lagi yang dekat dari situ), akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa PT. Kereta Api. Sampai di Stasiun Hall jam 11.50, sepuluh menit sebelum keberangkatan kereta Argo Gede. Tadinya sih pangen naik Parahyangan, tapi baru ada jam 13.30. Setelah mempertimbangkan bahwa klo sampe di jakarta lebih dari jam 4 sore, pasti Jakarta sudah “menyambut” dengan kemacetan yang hampir pasti terjadi (hanya mukjizat jika sore hari di sepanjang jalan Thamrin – Sudirman tidak macet). Klo macet, bisa-bisa sampai rumah jam 7 malam. Bayangkan hampir 3 jam dari Stasiun Gambir ke rumah saya di Kebayoran Lama. Itu sama saja dengan waktu yang saya tempuh dari Bandung ke Jakarta.
Akhirnya saya membeli tiket Argo Gede dengan diskon menjadi Rp 70.000. Cukup mahal sih untuk ukuran mahasiswa seperti saya, tapi harga itu tidak sia-sia saya keluarkan karena ada sebuah kisah dan hikmah menarik di dalam Kereta. Setelah saya masuk kereta, seharusnya saya duduk di kursi 7D, tapi ternyata sudah ada sosok bapak-bapak yang telah menempatinya. Tadinya sih ingin menukar kursi sesuai dengan nomor yang saya peroleh, tapi akhirnya saya urungkan niat itu. Selang beberapa lama setelah keberangkatan kereta, sang bapak disebelah saya hanya sibuk dengan HP nya, dan saya pun sibuk mendengarkan MP3 Player. Baru setelah beberapa menit, ketika sang bapak selesai ‘sibuk’ dengan Hpnya, beliau mulai bercerita dan memberikan banyak kisah dan perjalanan karir selama kehidupan beliau.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, barulah saya tahu bahwa beliau adalah salah satu pejabat tinggi di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Namanya klo tidak salah Basuki, saya menyebutnya dengan Pak Basuki. Beliau masih terbilang muda untuk menjadi salah seorang pejabat tinggi (dia tidak menyebutkan posisinya, tapi saya menyimpulkan bahwa dia pejabat tinggi karena dalam salah satu kisahnya beliau bercerita tentang jabatannya yang dipromosikan oleh Ibu Mutia Hatta, yang kala itu belum menjabat sebagai Menteri). Pak Basuki sekitar 35 tahun dan beliau alumni Fakultas Hukum Undap angkatan 80-an.
Pak Basuki mulai bercerita tentang perbedaan hidupnya setelah masuk dalam dunia kerja dan juga setelah berumah tangga. Menurut beliau, orang yang ingin berumah tangga, harus siap mengambil tanggung jawab lebih. “Paling klo nikah itu enaknya 3 bulan pertama, seakan-akan dunia milik kita (beliau dan istrinya) berdua” demikian ujarnya. “Setelah itu, baru mulai pusing memikirkan masalah lainnya” beliau menambahkan. Awalnya beliau mengeluhkan sulitnya memperoleh penginapan di Singapura (sepertinya dia sedang ingin dinas ke Singapura), dan anehnya yang mengisi hotel2 di Singapura itu kebanyakan orang Indonesia juga. “Saya jadi mikir, apa bener bangsa Indonesia ini miskin-miskin, berlibur aja sampai ke Singapura” begitu keluhnya.
Setelah berbicara mengenai pernikahan dan keluarga, kita memasuki babak baru pembicaraan, yaitu mengenai dunia karir. Karena Pak Basuki adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), beliau menceritakan betapa harus berpikir ekstra keras untuk bertahan hidup menjadi PNS, tentunya PNS yang baik. Karena menurut beliau, klo kita ingin menjadi PNS, kita harus kuat mental melihat ketidakbaikan disekitar kita. Bahkan ada saudara beliau yang tidak kuat menjadi PNS dan memilih untuk keluar sebagai PNS karena saking tidak kuatnya melihat ketidakberesan dilingkungan kerjanya. Pak Basuki pun mengakui bahwa hampir 60 – 70 persen PNS itu kurang baik ( tapi tidak semua PNS seperti itu, masih ada sekitar 30 – 40 persen yang baik ). Lalu saya bertanya mengenai ‘Lahan Basah’ di PNS. Beliau pun mengatakan memang di PNS itu banyak ‘Lahan Basah’, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan ‘cerdas’. Maksud ‘cerdas’ disini adalah bagaimana memanfaatkan ‘Lahan Basah’ tersebut tanpa harus melakukan Korupsi dan Kolusi. Dan semuanya balik lagi kepada pribadi masing-masing. Apabila ingin sukses menjadi PNS, kita harus pandai dan bekerja keras. “Biasanya orang yang Korupsi dalam PNS itu kebanyakan orang-orang malas yang ingin hidup enak, tanpa mau kerja keras” ujar Pak Basuki.
Setelah berbicara panjang lebar, beliau banyak memberikan beberapa saran agar karir saya dapat sukses. “Mulailah mengatur strategi dari sekarang, apa yang ingin kamu lakukan 5 – 10 tahun kedepan” beliau menyarankan. Kerja keras dan pandai melihat kesempatan, itu salah satu kunci jika kita ingin sukses menurut beliau. Sebenarnya masih banyak kisah dan hikmah yang beliau berikan, tapi sepertinya tidak akan cukup saya tuliskan disini. Intinya adalah saya mendapat ‘Stadium General’ gratis dalam suasana yang santai secara langsung dari salah seorang pejabat di Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Ini merupakan kesempatan yang belum tentu datang dua kali, dengan uang Rp 70.000 naik kerata Argo Gede dan mendapatkan ‘kuliah umum’ dari salah seorang pejabat pemerintah. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan sekaligus pelajaran yang sangap berharga bagi orang yang belum mengerti apa-apa di dunia kerja seperti saya.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Jakarta jam 3 kurang 10 menit (14.50). Sebelum naik kendaraan ke rumah, saya sholat DzuShar (Dzuhur menjelang Ashar) di masjid Stasiun Gambir. Setelah itu, baru saya lanjutkan perjalanan pulang menggunakan Bus. Tadinya sih ingin naik Busway, tapi setelah lihat di dalam Busway juga berdesakan, akhirnya saya pilih bus patas biasa yang ternyata isinya kosong.
Setelah saya apply, beberapa hari kemudian, saya dapat telepon dari salah seorang karyawan di IBM yang bernama Ibu Indri. Beliau meminta saya datang ke IBM pada hari Selasa, 11 Juli 2006 pukul 10 pagi untuk mengikuti Test IQ, yang merupakan syarat pertama untuk menjadi karyawan disana.
Akhirnya pada hari Senin, setelah memperoleh Transkip akademik, saya berangkat ke jakarta. Tadinya ingin menggunakan Travel X-Trans, ternyata untuk hari senin (10 Juli 2006) semua keberangkatan ke Pondok Indah sudah penuh sampai jam 6 sore. Dan rencananya waktu itu juga ingin mencoba travel yang lain. Tapi karena tidak tahu travel mana lagi yang harus dihubungi (lagi pula saya ngga tau travel mana lagi yang dekat dari situ), akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa PT. Kereta Api. Sampai di Stasiun Hall jam 11.50, sepuluh menit sebelum keberangkatan kereta Argo Gede. Tadinya sih pangen naik Parahyangan, tapi baru ada jam 13.30. Setelah mempertimbangkan bahwa klo sampe di jakarta lebih dari jam 4 sore, pasti Jakarta sudah “menyambut” dengan kemacetan yang hampir pasti terjadi (hanya mukjizat jika sore hari di sepanjang jalan Thamrin – Sudirman tidak macet). Klo macet, bisa-bisa sampai rumah jam 7 malam. Bayangkan hampir 3 jam dari Stasiun Gambir ke rumah saya di Kebayoran Lama. Itu sama saja dengan waktu yang saya tempuh dari Bandung ke Jakarta.
Akhirnya saya membeli tiket Argo Gede dengan diskon menjadi Rp 70.000. Cukup mahal sih untuk ukuran mahasiswa seperti saya, tapi harga itu tidak sia-sia saya keluarkan karena ada sebuah kisah dan hikmah menarik di dalam Kereta. Setelah saya masuk kereta, seharusnya saya duduk di kursi 7D, tapi ternyata sudah ada sosok bapak-bapak yang telah menempatinya. Tadinya sih ingin menukar kursi sesuai dengan nomor yang saya peroleh, tapi akhirnya saya urungkan niat itu. Selang beberapa lama setelah keberangkatan kereta, sang bapak disebelah saya hanya sibuk dengan HP nya, dan saya pun sibuk mendengarkan MP3 Player. Baru setelah beberapa menit, ketika sang bapak selesai ‘sibuk’ dengan Hpnya, beliau mulai bercerita dan memberikan banyak kisah dan perjalanan karir selama kehidupan beliau.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, barulah saya tahu bahwa beliau adalah salah satu pejabat tinggi di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Namanya klo tidak salah Basuki, saya menyebutnya dengan Pak Basuki. Beliau masih terbilang muda untuk menjadi salah seorang pejabat tinggi (dia tidak menyebutkan posisinya, tapi saya menyimpulkan bahwa dia pejabat tinggi karena dalam salah satu kisahnya beliau bercerita tentang jabatannya yang dipromosikan oleh Ibu Mutia Hatta, yang kala itu belum menjabat sebagai Menteri). Pak Basuki sekitar 35 tahun dan beliau alumni Fakultas Hukum Undap angkatan 80-an.
Pak Basuki mulai bercerita tentang perbedaan hidupnya setelah masuk dalam dunia kerja dan juga setelah berumah tangga. Menurut beliau, orang yang ingin berumah tangga, harus siap mengambil tanggung jawab lebih. “Paling klo nikah itu enaknya 3 bulan pertama, seakan-akan dunia milik kita (beliau dan istrinya) berdua” demikian ujarnya. “Setelah itu, baru mulai pusing memikirkan masalah lainnya” beliau menambahkan. Awalnya beliau mengeluhkan sulitnya memperoleh penginapan di Singapura (sepertinya dia sedang ingin dinas ke Singapura), dan anehnya yang mengisi hotel2 di Singapura itu kebanyakan orang Indonesia juga. “Saya jadi mikir, apa bener bangsa Indonesia ini miskin-miskin, berlibur aja sampai ke Singapura” begitu keluhnya.
Setelah berbicara mengenai pernikahan dan keluarga, kita memasuki babak baru pembicaraan, yaitu mengenai dunia karir. Karena Pak Basuki adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), beliau menceritakan betapa harus berpikir ekstra keras untuk bertahan hidup menjadi PNS, tentunya PNS yang baik. Karena menurut beliau, klo kita ingin menjadi PNS, kita harus kuat mental melihat ketidakbaikan disekitar kita. Bahkan ada saudara beliau yang tidak kuat menjadi PNS dan memilih untuk keluar sebagai PNS karena saking tidak kuatnya melihat ketidakberesan dilingkungan kerjanya. Pak Basuki pun mengakui bahwa hampir 60 – 70 persen PNS itu kurang baik ( tapi tidak semua PNS seperti itu, masih ada sekitar 30 – 40 persen yang baik ). Lalu saya bertanya mengenai ‘Lahan Basah’ di PNS. Beliau pun mengatakan memang di PNS itu banyak ‘Lahan Basah’, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan ‘cerdas’. Maksud ‘cerdas’ disini adalah bagaimana memanfaatkan ‘Lahan Basah’ tersebut tanpa harus melakukan Korupsi dan Kolusi. Dan semuanya balik lagi kepada pribadi masing-masing. Apabila ingin sukses menjadi PNS, kita harus pandai dan bekerja keras. “Biasanya orang yang Korupsi dalam PNS itu kebanyakan orang-orang malas yang ingin hidup enak, tanpa mau kerja keras” ujar Pak Basuki.
Setelah berbicara panjang lebar, beliau banyak memberikan beberapa saran agar karir saya dapat sukses. “Mulailah mengatur strategi dari sekarang, apa yang ingin kamu lakukan 5 – 10 tahun kedepan” beliau menyarankan. Kerja keras dan pandai melihat kesempatan, itu salah satu kunci jika kita ingin sukses menurut beliau. Sebenarnya masih banyak kisah dan hikmah yang beliau berikan, tapi sepertinya tidak akan cukup saya tuliskan disini. Intinya adalah saya mendapat ‘Stadium General’ gratis dalam suasana yang santai secara langsung dari salah seorang pejabat di Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Ini merupakan kesempatan yang belum tentu datang dua kali, dengan uang Rp 70.000 naik kerata Argo Gede dan mendapatkan ‘kuliah umum’ dari salah seorang pejabat pemerintah. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan sekaligus pelajaran yang sangap berharga bagi orang yang belum mengerti apa-apa di dunia kerja seperti saya.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di Jakarta jam 3 kurang 10 menit (14.50). Sebelum naik kendaraan ke rumah, saya sholat DzuShar (Dzuhur menjelang Ashar) di masjid Stasiun Gambir. Setelah itu, baru saya lanjutkan perjalanan pulang menggunakan Bus. Tadinya sih ingin naik Busway, tapi setelah lihat di dalam Busway juga berdesakan, akhirnya saya pilih bus patas biasa yang ternyata isinya kosong.
Perjalanan pulang yang menyenangkan itu akhirnya berakhir setelah saya memasuki pintu rumah tercinta. Home Sweet Home.
chaidir.abadi
chaidir.a[at]gmail.com
makasih atas resume sebagian studium generalnya
hehehe….
Comment by Iqbal — July 13, 2006 @ 12:45 pm
makasih jg atas sebagian komentarnya
Comment by chaidir — July 13, 2006 @ 12:53 pm
hoooooo… blog baru..?
Maen dong ke blog gw.. ;;)
Mudah2an diterima kerja di IBM
jangan lupa sama traktirannya ;;)
Comment by Wiwien — July 16, 2006 @ 8:11 am
cieee… achai, lo ko ketemunye ma bapak2 si chai? gw si kalo nek kereta sengaja pilih2 bangku kosong yg sebelahnye cW cakep… :p *kyk iklan coca cola..*
iye deh, SG yg valuable ye chai…
siapa tau, 10 atau 20 taun lagi, lo berada di posisi si bapak, menemani anak ITB angkatan 2021 yg dengerin MP53player (udah ga ada MP3player :p),trus membuka pembicaraan “saya juga dulu anak itb lho…”
hehe… peace cay
Comment by bang Ree — August 4, 2006 @ 3:34 pm